Members Login
Email
Password



Berita dari Organisasi
Rabu, 01 Februari 2012
13:18:53 WIB
Konvensi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO, 1948), Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 H dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental setiap warga. Oleh karena itu, setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya dan Negara bertanggung jawab ...

» Lihat Semua

Seputar Berita
Rabu, 01 Februari 2012
10:09:37 WIB
Yang Muda, Yang Rentan HIV&AIDSDi negara-negara berkembang, mereka yang berusia muda (15-24 tahun) dikategorikan sebagai kelompok dengan risiko penularan HIV&AIDS yang paling tinggi (UNFPA 2005). Penyebabnya adalah perilaku seksual yang tidak terlindung dan minimnya pengetahuan mereka tentang HIV&AIDS. Di Indonesia sendiri, ...

» Lihat Semua

Iklan Terkini


Counter Hit
049921
  Pengunjung hari ini : 32
  Total pengunjung : 11899
  Hits hari ini : 114
  Total Hits : 49921
  Pengunjung Online: 5

Home >> Seputar Berita Kami
World Food Day - 16 October 2011 Food prices - from crisis to stability
Selasa, 18 Oktober 2011 - 15:06:01 WIB
Ditulis oleh : Super | Hit: 2 kali

Harga Pangan - Dari Krisis menuju Stabilitas

”Biarlah tersedia makanan bergizi seimbang untuk semua orang.” Pangan menjadi suatu keharusan bagi keberlangsungan dan kesejahteraan serta kebutuhan mendasar bagi umat manusia. Namun, tak dapat dipungkiri harga pangan global menunjukkan kenaikan tajam beberapa tahun terakhir ini dan diprediksikan pada tahun-tahun mendatang kecenderungannya akan sama. Akibatnya, semakin banyak negara yang rentan terhadap kemiskinan dan ketahanan pangan. Cuaca ekstrim yang semakin sering terjadi berakibat pada produksi panen. Selain itu, terjadi peningkatan permintaan konsumen dari negara-negara dengan tingkat pertumbuhan perekonomian tinggi. Laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa perkembangan bahan bakar hayati juga menjadi salah satu penyebab dan peningkatan jumlah penduduk dunia tentunya menjadi faktor mendasar terjadinya kenaikan harga pangan. Krisis ini tentu menimbulkan masalah terutama bagi negara miskin yang harus mengimpor sebagian besar pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Negara dengan inflasi tinggi, keterbatasan persediaan mata uang asing dan penyusutan mata uang lokal terhadap dolar Amerika juga rentan terhadap krisis kenaikan harga pangan global.
Maka, dalam rangka menggugah dan meningkatkan kesadaran masyarakat luas terhadap masalah harga pangan yang cenderung terus naik serta untuk menyatukan gerak langkah masyarakat global untuk menangani krisis ini, maka peringatan Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2011, dikemas dalam tema ”Harga Pangan – Dari Krisis Menuju Stabilitas.”

Salah satu bentuk kepedulian yang dapat kita lakukan dalam rangka mendukung ketahanan pangan adalah dengan mengkonsumsi aneka ragam pangan non beras dengan prinsip gizi seimbang, mengembangkan industri bahan pangan lokal di luar beras seperti mengolah umbi-umbian menjadi tepung sebagai pengganti beras dan terigu, serta menggali dan memanfaatkan sumber-sumber pangan karbohidrat lokal.

 Jika kamu ingin menghapuskan kelaparan, setiap orang harus terlibat

Tahukah Anda?

Motto Badan Pangan Sedunia (FAO) adalah fiat panis yang artinya biarlah tersedia roti (Let there be bread).

Indeks Harga Pangan mencapai titik tertinggi dalam sejarah pada bulan Februari 2011 dengan nilai 238 poin. Pada September 2011, tiba pada nilai 225 dimana 15% lebih tinggi dari indeks di September 2010. (FAO, 2011)

Kenaikan harga pangan lokal menjadi salah satu penyebab krisis kelaparan yang sekarang terjadi di Tanduk Afrika. Beberapa tahun belakangan ini, di Somalia harga pangan pokok yaitu sorgum merah dan jagung putih meningkat hingga 240 % dan 154 %. (Word Food Programme-WFP, 2011)

Apakah harga pangan tinggi menguntungkan para petani? Ya, tetapi banyak dari mereka yang tidak memproduksi pangan secara cukup bahkan untuk kebutuhan mereka sendiri. Banyak pula dari mereka yang tidak memiliki akses menjual ke pasar dengan harga tinggi dan sumberdaya yang mereka butuhkan, seperti pupuk, untuk meningkatkan hasil produksi, tidak tersedia.

Jumlah populasi perempuan lebih dari setengah populasi umat dunia tapi lebih dari 60% yang mengalami kelaparan. (The Best Start Saving Children’s Lives in Their First Thousand Days-World Vision, 2011).

2,8 juta setiap tahun – 7.500 setiap hari anak usia balita meninggal akibat kekurangan gizi dan hampir 3 juta kematian anak yang dapat dicegah setiap tahunnya terkait dengan masalah kekurangan gizi.. (The Best Start Saving Children’s Lives in Their First Thousand Days-World Vision, 2011).

Sementara anak di Indonesia, 4,9% mengalami gizi buruk, 18,5% bertinggi badan sangat pendek, dan 6% dengan berat badan sangat kurus. (Riset Kesehatan Dasar, 2010).

Rumah tangga miskin di Indonesia menghabiskan biaya sekitar 60% per bulan untuk bahan pangan dan lebih dari 20% untuk beras selama musim paceklik. (Monthly Price and Food Security Update World Food Programme, Agustus 2011).

Pemerintah Indonesia mengimpor 1,8 juta ton beras selama tahun 2010.

Untuk tahun 2011, Biro Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa hanya ada 2,4% peningkatan produksi beras dan penurunan produksi jagung sebesar 5.1%. Kegagalan panen dilaporkan terjadi di Sumba Timur, Kupang, TTU, Manggarai Timur, Ngada akibat kekeringan dan hama selama musim panen (Maret-Agustus). (Monthly Price and Food Security Update World Food Programme, Agustus 2011).

Harga rata-rata beras di Indonesia meningkat dan mencapai harga Rp 9.297/kg di Juli 2011. 16% lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan yang sama setahun sebelumnya. Harga ini diperkirakan akan terus meningkat selama bulan November 2011 – Februari 2012 (Monthly Price and Food Security Update World Food Programme, Agustus 2011).

Juli 2011, harga minyak goreng dan gula menurun atau stabil dari bulan sebelumnya. Namun harga minyak goreng 15% lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya. Hal ini menimbulkan masalah bagi rumah tangga miskin yang menghabiskan 2-3% penghasilan per bulan mereka untuk minyak goreng. (Monthly Price and Food Security Update World Food Programme, Agustus 2011)

Hasil penelitian yang terangkum dalam The Best Start Saving Children’s Lives in Their First Thousand Days (World Vision, 2011) menyatakan: Pemberian gizi yang memadai pada 1000 hari pertama kehidupan anak (mulai dari masa dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun) akan menentukan masa depannya selanjutnya.

Pemastian terhadap akses zat besi dapat menyelamatkan 350.000 jiwa setiap tahunnya. (The Best Start Saving Children’s Lives in Their First Thousand Days-World Vision, 2011). Dana 11,8 milyar dolar Amerika per tahun dapat menyelamatkan hidup 1,1 juta anak dan pengeluaran 42 dolar Amerika per kepala keluarga dapat menghentikan kekurangan gizi pada anak sebelum masalah kekurangan gizi terjadi. (The Best Start Saving Children’s Lives in Their First Thousand Days-World Vision, 2011).

Investasi di nutrisi dapat meningkatkan GDP nasional sebesar 2-3%. (The Best Start Saving Children’s Lives in Their First Thousand Days-World Vision, 2011)