





Pengunjung hari ini : 32
Total pengunjung : 11899
Hits hari ini : 109
Total Hits : 49916
Pengunjung Online: 4Yang Muda, Yang Rentan HIV&AIDS
Di negara-negara berkembang, mereka yang berusia muda (15-24 tahun) dikategorikan sebagai kelompok dengan risiko penularan HIV&AIDS yang paling tinggi (UNFPA 2005). Penyebabnya adalah perilaku seksual yang tidak terlindung dan minimnya pengetahuan mereka tentang HIV&AIDS. Di Indonesia sendiri, sebagai contoh, HIV&AIDS sudah menjadi epidemi di Provinsi Papua dan Papua Barat, dengan prevalensi 2,4% pada penduduk usia 15-49 tahun (SRAN KPAN 2010- 2014). Salah satu populasi kunci dalam epidemi ini adalah kelompok usia muda yang rawan tertular HIV&AIDS karena perilaku seksual mereka yang tak terlindung (SRAN KPAN 2010- 2014).
Berkaitan dengan hal itu, LabSosio dan Wahana Visi Indonesia melakukan penelitian untuk memahami perilaku seksual tak terlindung pada kelompok usia muda di Papua. Juga untuk melihat pengaruh berbagai faktor sosial, seperti persepsi soal seks, relasi gender, dan pengetahuan tentang HIV&AIDS, terhadap perilaku seksual tersebut. Penelitian ini dilakukan di empat distrik di Keerom, yaitu Arso, Skamto, Arso Timur, dan Waris. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui survei yang dilakukan terhadap 200 responden usia 12-24 tahun. Analisis perilaku seksual tidak aman dilakukan terhadap 148 responden yang belum menikah. Analisi ini ditunjang dengan analisis data kualitatif, yang diperoleh dari wawancara mendalam terhadap sejumlah informan pada rentang kelompok usia tersebut.
Seks Pra-Nikah
Berdasarkan penelitian ini, dari 148 responden usia remaja yang belum menikah, 26,4% mengaku sudah melakukan hubungan seksual dan 70,2% belum. Bagi remaja setempat, hubungan seks pra-nikah tampaknya tidak dianggap sebagai hal yang tabu. Hal itu lebih dilihat sebagai aktivitas yang biasa dan wajar di antara remaja yang berpacaran. Bahkan ada kasus mereka yang masih sekolah dan belum menikah secara sah namun sudah tinggal bersama pacarnya dan hidup layaknya suami istri.
Temuan lapangan juga mengungkapkan besarnya keinginan remaja untuk mencari pengetahuan dan pengalaman seks; terjadinya kasus-kasus kehamilan yang tidak diinginkan, dan kebiasaan berganti pasangan seksual di kalangan remaja. Hasil studi ini setidaknya menunjukkan remaja di wilayah-wilayah yang diteliti memiliki kecenderungan untuk melakukan hubungan seks yang tidak terlindungi atau beresiko.
Stigma Negatif dan Ketimpangan Relasi Gender
Kecenderungan perilaku seksual berisiko ditandai salah satunya dengan rendahnya kesadaran penggunaan kondom di wilayah-wilayah yang diteliti. Dari responden yang belum menikah dan sudah melakukan hubungan seks dalam 1 tahun terakhir, 46,2% mengaku sama sekali tidak menggunakan kondom, 23,1% tidak ingat dan 15,4% tidak menjawab. Alasan tidak menggunakan adalah kondom tidak tersedia (52,2%), responden tidak mau menggunakan kondom (34,7%), pasangan tidak bersedia menggunakan kondom (13%).
Stigmatisasi tertentu tentang kondom merupakan salah satu faktor signifikan yang berkontribusi pada ketidaktersediaan dan keengganan kelompok remaja dalam menggunakannya. Kondom identik dengan promiscuity atau ’seks bebas’ sehingga penyediaannya bagi kelompok usia muda yang belum menikah dianggap mempromosikan seks bebas.
Selain itu, perilaku tidak menggunakan kondom juga dipengaruhi oleh relasi gender yang tak setara. Dalam relasi tersebut, perempuan diposisikan sebagai pihak yang harus menuruti kemauan pasangannya, termasuk dalam menggunakan kondom atau tidak. Ketidaksetaraan inilah yang kemudian melemahkan posisi tawar perempuan dalam menegosiasikan penggunaan kondom dalam hubungan seksual dengan pacarnya.
HIV&AIDS: Stigma Negatif dan Pengetahuan tak Memadai
Pengetahuan tentang penularan HIV&AIDS pun mempengaruhi keengganan kelompok usia muda untuk menggunakan kondom dalam hubungan seks. Penelitian ini menemukan hanya sebagian kecil responden (4,1%) yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV&AIDS, sedangkan sebagian besar responden (95,9%) tidak memilikinya.
Hal tersebut dipengaruhi oleh stigma negatif tentang HIV&AIDS. Seorang informan, misalnya, mengemukakan HIV&AIDS sebagai penyakit kutukan Tuhan; penyakit kotor karena perbuatan maksiat dan hubungan seks yang ‘sembarangan’ dengan PSK (Pekerja Seks Komersil). Definisi ’menyimpang’ yang melekat pada HIV&AIDS mempengaruhi kelompok usia muda dalam mempersepsikannya. Bagi mereka, yang mengkategorikan dirinya sebagai remaja ’baik-baik’, HIV&AIDS dianggap sebagai hal yang tidak relevan. Stigma tersebut menghambat banyak orang untuk membicarakan HIV&AIDS secara terbuka. Akibatnya, masyarakat terus menerus mereproduksi pengetahuan yang salah tentang HIV&AIDS, cara penularan dan pencegahannya.
Penutup
Perilaku seksual tidak terlindung pada kelompok usia muda di empat lokasi yang diteliti dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, seperti persepsi yang tidak menabukan seks pra-nikah, namun justru menabukan kondom, juga relasi gender yang timpang antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, minimnya pengetahuan yang komprehensif tentang HIV&AIDS, penularan dan pencegahannya juga turut mempengaruhi perilaku seksual tidak terlindung tersebut. Salah satu penyebabnya adalah stigmatisasi terhadap HIV7AIDS.
Dengan demikian, aneka faktor sosial harus diperhatikan ketika merancang program-program yang bertujuan menekan angka penularan HIV&AIDS, khususnya pada kelompok usia muda. Sosialisasi tentang manfaat kondom dan bahaya hubungan seks tidak terlindung (seks berisiko) penting dilakukan pada mereka yang tidak menabukan seks pra-nikah. Untuk menghapus stigma negatif tentang HIV&AIDS, penting juga untuk mensosialisasikan pengetahuan yang memadai tentang HIV&AIDS, termasuk penularan dan pencegahannya. Yang tak kalah penting dalam merancang program-program untuk mengurangi kerentanan kelompok usia muda terhadap HIV&AIDS adalah memasukkan ide kesetaraan gender.